Royal Golden Eagle, sebuah konglomerat Indonesia yang berfokus pada industri manufaktur berbasis sumber daya alam, sedang melakukan perluasan dengan membuat selulosa khusus dan mengekspor gas alam cair dari Kanada, kata Anderson Tanoto, putra pendiri perusahaan Sukanto Tanoto dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

 20141010 Anderson

RGE mengoperasikan rangkaian bisnis yang luas seperti pulp dan kertas, minyak sawit, minyak dan gas mulai dari Indonesia, Tiongkok, Singapura, Brasil, dan Kanada.

Sukanto, 64, berada pada urutan 11 dalam daftar orang terkaya Globe Asia tahun ini dengan kekayaan bersih 2,2 miliar dolar AS.

“Kami memproduksi berbagai produk yang memiliki nilai tambah; kami memproses kayu menjadi pulp dan kertas, tapi kami mampu melakukan lebih dari itu,” kata Anderson, pewaris pendiri konglomerat raksasa yang memegang lebih dari 15 miliar dalam bentuk aset.

Di Indonesia, Sukanto membuka bisnis pertamanya di Kerinci, Riau pada tahun 1993, Riau Andalan  Pulp and Paper yang memasuki pasar untuk produksi pulp komersial pada 1995 dan produksi kertas komersial pada 1998.

Dalam waktu 20 tahun sejak saat itu, Sukanto telah memperluas perusahaannya menjadi sebuah konglomerasi  yang besar.

Bisnis pulp dan kertas-nya bergabung di bawah Asia Pacific Resources International Limited (April), sebuah perusahaan manajemen berbasis di Singapura.

April mengelola kompleks manufaktur seluas 1.750 hektar di Kerinci, salah satu pabrik pulp dan kertas terbesar di dunia, mampu memproduksi sekitar 2,8 juta ton pulp dan 820.000 ton kertas per tahun.

Salah satu produknya adalah PaperOne, lini produk kertas kantor yang kini dijual di lebih dari 75 negara.

Barang-barang yang bisa dibuat dari pulp

Anderson mengatakan, ada banyak manfaat lain dari serat kayu.

“Misalnya, bisa diproses menjadi rayon untuk bahan pakaian. Bisa juga diproses menjadi selulosa khusus, yang memiliki banyak manfaat, seperti pembuatan layar LCD. Mereka menggunakan apa yang disebut dengan lapisan selulosa.”

Pada manufaktur tampilan kristal cair, sebuah subtrat selulosa diaplikasikan di antara lapisan kaca untuk menghasilkan film yang fleksibel dan terpolarisasi yang melindungi layar serta menambah energi permukaannya.

“Selulosa juga dapat digunakan [sebagai tambahan] dalam pasta gigi, dan banyak benda lainnya. Namun, saat ini, kebanyakan proses tersebut baru dilakukan di Eropa dan Amerika Serikat. Apabila kita dapat melakukan proses tersebut di Indonesia, hal itu akan menjadi masa depan kita,” Anderson mengatakan.

Di luar Indonesia, RGE mengelola Sateri Holdings, salah satu produsen selulosa khusus terbesar di dunia.

Perusahaan yang terdaftar di Hong Kong ini memproduksi berbagai tingkat pulp kayu terlarut dengan tingkat kemurnian tinggi dan serat viskose – bahan mentah untuk berbagai barang kebutuhan sehari-hari, mulai dari tekstil, tisu bayi, es krim lembut hingga farmasi dan produk-produk industri seperti ban.

Sateri, yang memiliki operasi hulu di Brasil – sebuah perkebunan eukaliptus seluas 150.000 hektar dan sebuah pabrik yang memproduksi pulp kayu terlarut dengan kemurnian tinggi – juga memproduksi selulosa khusus untuk LCD.

Basis bisnis hilir Sateri di Tiongkok, tempat perusahaan mengoperasikan berbagai fasilitas yang memproses produk-produk dari operasi di Brasil menjadi serat viskose. Perusahaan ini pun memasarkan produknya di Tiongkok. ]

Pesaing LNG

Anderson, pemimpin perusahaan yang sedang naik daun, mengatakan, RGE bertujuan untuk mulai mengirim gas alam cair (LNG) dari sebuah fasilitas di Kanada untuk melayani konsumen di Jepang dan Tiongkok pada 2017.

RGE mengelola Pacific Oil & Gas (PO&G), sebuah perusahaan pengembang sumber energi independen yang membangun, mempunyai, dan mengoperasikan proyek-proyek melalui rantai suplai energi, seperti fasilitas ekspor LNG di Kanada.

Belum ada perusahaan yang mengirim LNG dari Kanada ke luar negeri. Melalui Pacific Oil & Gas, kami bertujuan untuk menjadi perusahaan pertama yang mengekspor LNG dari Kanada,” katanya.

Pada September tahun ini, 17 proposal fasilitas ekspor LNG di Kanada telah memasuki tahap penilaian secara hukum.

Karena proposal-proposal tersebut masih dalam proses penilaian secara hukum oleh Pemerintah Kanada, perkembangan pasar energi akhir-akhir ini dipenuhi keuntungan dari usaha ekspor Asia. Konflik di Ukraina menyebabkan Rusia menandatangani kontrak 400 miliar dolar AS dengan Tiongkok, yang diharapkan dapat memenuhi sebagian permintaan negara tersebut untuk beberapa waktu ke depan.

Posisi yang dapat dipercayai

Setelah empat tahun kuliah di Wharton School di Universitas Pennsylvania, Anderson menghabiskan dua tahun di Bain & Company sebelum bergabung dengan bisnis keluarga pada Maret 2013.

Manajer April berusia 24 tahun ini mengatakan, dia menghabiskan sebagian besar waktunya di Kerinci, tempat dia terlibat dalam operasi serat dan bertanggung jawab terhadap tranformasi bisnis melalui sebuah program berbasis manufaktur.

Dia muncul pertama kali di media selama Ramadan tahun lalu, dengan sebuah pesan yang ditujukan kepada para aktivis lingkungan; dia berusaha untuk membuka lembaran baru setelah bisnis pulp dan kertas RGE ini mendapat banyak kritik.

Meskipun nama keluarganya menjadi faktor penunjang di antara para staf, Anderson mengatakan bahwa dia tidak memperoleh posisi ini secara instan pada puncak pimpinan perusahaan. Dia mengatakan, dia harus membuktikan bahwa dirinya pantas untuk memimpin kerajaan bisnis ayahnya.

Anderson mengakui bahwa dia sangat berminat pada pengembangan komunitas dan filantropis, yang dia lakukan melalui pengarahan strategis terhadap proyek Riau Ecosystem Restoration di Kampar, Sumatera.

Anderson adalah anggota Dewan Wali Amanat Tanoto Foundation, sebuah yayasan yang didirikan ayahnya pada tahun 1981.

Yayasan tersebut aktif dalam memberikan beasiswa bagi para pelajar yang secara ekonomi kurang beruntung yang hidup di area-area tempat perusahaan beroperasi di Indonesia.

Diterjemahkan dari artikel yang dipublikasikan pada Jakarta Globe.

Sukanto Tanoto Website

Sukanto Tanoto is a visionary entrepreneur and philanthropist. He is the Founder and Chairman of Royal Golden Eagle (RGE), which manages a global group of companies in resources manufacturing. Tanoto is also the co-founder of Tanoto Foundation, a philanthropy that aims to improve lives by alleviating poverty.